Bupati Sumenep Minta Musik Tong-tong Berinovasi Tanpa Kehilangan Jati Diri
- Inyoman -
- 05 Sep, 2026
SUMENEP I MaduraNetwork.id - Suara tabuhan musik
tong-tong kembali menggema di Pulau Madura. Festival Musik Tong-tong se-Madura
2026 bukan sekadar pertunjukan hiburan tahunan. Festival yang masuk dalam
kalender Karisma
Event Nusantara (KEN) 2026 itu menjadi panggung bagi para seniman
untuk mempertahankan kesenian tradisional sekaligus menguji sejauh mana musik
warisan leluhur tersebut dapat beradaptasi dengan zaman.
Sebanyak 27 kelompok musik tong-tong dari empat
kabupaten di Madura ambil bagian dalam festival yang digelar Pemerintah
Kabupaten Sumenep bersama keluarga besar FKPPI Cabang 1327 Sumenep, Sabtu, 5
September 2026.
Bagi Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo,
keberlangsungan musik tong-tong tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk
lama. Seniman perlu berani mengembangkan aransemen agar musik tradisional itu
tetap memiliki daya tarik, terutama bagi generasi muda.
“Para seniman musik tong-tong agar meningkatkan
kreativitas dalam setiap penampilan melalui aransemen musik yang inovatif,
menarik, dan tetap mempertahankan karakter khas musik tong-tong sebagai warisan
budaya daerah,” kata Fauzi kepada wartawan, Sabtu (5/11).
Di titik itulah tantangan musik tong-tong
berada bagaimana berinovasi tanpa kehilangan identitas. Fauzi mengatakan
pengembangan aransemen dapat dilakukan melalui perpaduan ritme, pola tabuhan,
kekompakan pemain, hingga pengembangan komposisi. Eksplorasi tersebut, menurut
dia, dapat membuat pertunjukan lebih dinamis tanpa harus mencabut musik
tong-tong dari akar tradisinya.
Musik tong-tong telah menjadi salah satu
penanda kebudayaan Madura. Karena itu, kreativitas seniman bukan semata urusan
estetika pertunjukan, melainkan bagian dari strategi mempertahankan warisan
budaya tak benda Kabupaten Sumenep.
“Pelaku musik tong-tong berkreativitas dalam
aransemen menjadi bagian penting agar masyarakat semakin meminati musik
tong-tong, khususnya generasi muda,” ujarnya.
Namun inovasi memiliki batas. Fauzi
mengingatkan agar perubahan komposisi dan aransemen tidak membuat musik
tong-tong kehilangan karakter aslinya. Modernisasi, kata dia, semestinya
menjadi alat untuk memperkuat tradisi, bukan menggantikannya.
“Seniman tong-tong berinovasi dan mengembangkan
kualitas aransemen musiknya, jangan sampai kehilangan jati diri musik
tong-tong. Kreativitasnya harus menjadi kekuatan untuk membuat budaya WBTB
Sumenep semakin terkenal,” katanya.
Festival tahun ini memperlihatkan bahwa musik
tradisional masih memiliki ruang di tengah perubahan selera hiburan masyarakat.
Kehadiran 27 kelompok dari empat kabupaten di Madura juga menunjukkan bahwa
tong-tong bukan hanya milik satu komunitas, melainkan bagian dari ekosistem
budaya Madura yang terus bergerak.
Bagi pemerintah daerah, festival karena itu
tidak berhenti pada pergelaran. Ia diharapkan menjadi ruang bertemunya tradisi,
kreativitas, dan regenerasi seniman.
Fauzi meminta para pelaku musik tong-tong
menjadikan setiap festival sebagai kesempatan untuk memperbaiki kualitas
pertunjukan. Aransemen baru, menurut dia, harus lahir dari pemahaman terhadap
tradisi, bukan sekadar mengejar kemeriahan.
“Para seniman menjadikan setiap festival
sebagai ruang untuk berkreasi dan melahirkan aransemen serta pertunjukan yang
semakin berkualitas,” kata Fauzi.
Tong-tong pun menghadapi ujian yang sama dengan
banyak kesenian tradisional lainnya: bertahan dengan akar yang kuat, tetapi
tetap mampu berbicara kepada generasi yang hidup dalam selera musik yang terus
berubah.
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *

